Jumat, 23 Maret 2012

Burung Pungguk dan Sayap Kiri yang Terluka

--Suatu waktu, sayap kirinya terluka dan tak bisa terbang karena pungguk terlalu memaksanya untuk terbang, tergores oleh sesuatu. Ya, karena kesalahan pungguk. Tak lama setelah itu, sayap kirinya pulih kembali, tetapi bekas lukanya tak hilang, walaupun sayap kirinya tetap bisa terbang.--

Suatu waktu, aku, Shame, Fai, dan Gerrard sedang bercerita. Kami ngobrol tentang masalah blog.
"Andai saja aku punya blog. Aku akan menulis semua yang aku lalui seharian ini," kata Gerrard.
"Kau tahu, David punya blog loh. Isinya adalah semua yang menceritakan kisah cintaku,"ujar Shame.

Damn! Umpatku dalam hati. Kenapa shame bilang aku punya blog. Astaga. Akupun menguras otakku agar tidak ketahuan. Terlintas di pikiranku alamat blog Matt.

"Ya, aku punya blog. Tulis saja, "matt-kuga.blogspot.com". Disana penuh dengan cerita Shame. Aku disana adalah Shame."
"Loh? Tapi kok ada nama Matt?"tanya Gerrard.
"Oh, itu. Biar tak ketahuan kalo aku yang menulis semua cerita itu. Jadi, jika cerita itu terbongkar, Matt yang kena,"ucapku sambil mencari-cari alasan yang lain lagi agar blogku tak ketahuan.
"Hahahaha, jadi Shame seperti ini? Aku baru tahu. Menarik sekali cerita yang kau buat,"balas Gerrard lagi.

Aku merasa lega. Lega karena blogku tak ketahuan. Lega karena blog Matt dianggap blogku. Tiba-tiba Shame mengajak Nur pergi ke kantin. Hah? Nur? Aku lupa kalau Nur mendengar pembicaraan kami.

Di kantin Nur bertemu dengan Matt.
"Matt, hahahaha. Kamu suka Beruang atau Panda? Hahaha,"ucap Nur. Itu adalah salah satu kata yang ada di blog Matt.
"Loh? Itu blogku,"kata Matt.

Kemudian, baliklah Nur dengan Shame. Menceritakan kisah itu. Nur pun bertanya padaku.
"David, itu blog punya siapa sih sebenarnya? Kata Matt itu blog dia. Katamu itu blogmu. Mana sih yang benar?"
"Oh, itu blogku. Sebenarnya itu blog kami bersama. Kadang-kadang aku menulis. Kadang-kadang dia. Tapi yang cerita cinta Shame itu, aku semua yang menulisnya,"balasku dengan hati-hati.
"Oh, begitu."

Setelah itu, aku pun pergi menemui Matt untuk meminta maaf karena menggunakan alamat blognya. Di sana, ternyata Matt langsung memasang wajah lain.

"Masih berani kau menemuiku? Setelah kau menyebarkan blogku?"
"Hah? Oh itu. Aku bilang kalau blog itu blogku kok. Lagipula cerita yang ada di dalamnya itu kubilang cerita Shame ke orang-orang."
"Tidak mungkin. Tadi Nur cerita padaku. Dan, apa kau tahu? Sewaktu aku melewati kelasmu semua orang melihatku."
"Mana mungkin, yang mendengar cerita blogmu itu hanya Gerrard, Shame, Nur, dan Fai."
"Bagaimana tidak mungkin?"
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"Sudahlah. Pulang ini aku akan menghapus blogku. Dari awal aku sudah berpikir bahwa membuat blog ini memang hanya menambah masalahku saja."
"APA??? Kau mau menghapus ceritamu? Sayang bodoh."
"Sudahlah, apapun perkataanmu, aku akan tetap menghapus blog itu," katanya sambil berlalu dan belajar dengan Resti.
"Ayolah Matt, jangan kau hapus," kataku.

Tapi Matt tidak menjawab. Akhirnya aku mengalah, tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku pun menceritakan ini pada Shame. Shame mengangguk, seolah mengerti.

"Hmm, kau tahu manusia terbagi dua. Pria dan wanita. Pria, otaknya terbagi menjadi 9 logika dan 1 perasaan. Sedangkan wanita, 9 perasaan dan 1 logika. Mungkin, Matt otaknya adalah 7 perasaan dan 3 logika. Jadi dia hanya bermain dengan perasaannya."
"Tapi sudahlah, kita tak bisa berbuat apalagi."

Keesokan harinya, dia sudah tersenyum padaku. Dia bilang bahwa blognya sudah dihapus, jadi tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Ya, kami sudah berbaikan.

Hei Matt, jika kau membaca tulisan ini aku ingin bisa bilang sesuatu, bukan sebagai sahabatmu, tapi sebagai pembaca setia dari blogmu. Aku tahu waktu penghapusan blog permanen adalah 90 hari. Jadi masih ada waktu. Karena itu, tolong jangan hentikan kesenangan menulismu. Gagalkan penghapusan blogmu. Bukankah mimpimu adalah menjadi seorang penulis. Jangan hentikan mimpimu disini. Kau tahu kenapa aku berkata begini? Karena, aku lah orang yang sangat menantikan kelanjutan dari ceritamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar